Kisah Ajaib Asmak & Azimah

Sebuah doa permohonan yang diwujudkan dalam bentuk tulisan disebut wifik. Sebagian ada yang menyebut dengan istilah rajah. Sedangkan aturan pembuatannya mengikuti aliran tertentu sesuai yang diikuti penulis atau pembuatnya .

Setiap aliran dalam ilmu rajah memiliki aturan tersendiri. Namun, pada umumnya, mereka meyakini bahwa setiap huruf hijaiyah yang ditulis berdasarkan ilmu batin, itu mengandung kekuatan gaib yang disebut khodam huruf.

Selain ada keyakinan tentang kekuatan khodam huruf, di dalam penulisan wifik juga mengandung unsur doa. Sehingga, kalau diamati, hampir sebagian besar huruf yang ditulis dalam lembar wifik itu merupakan kalimat doa yang bersumber dari Alquran, hadis dan kalimat hikmah.

Salah satu guru ahli hikmah pernah mengisahkan.

Seorang lelaki merasa heran dengan azimat yang diberikan Ibunya. Karena penasaran, azimat itu pun dibukanya. Ternyata, azimat itu bertuliskan kalimat : Ya Allah, selamatkanlah anakku dari segala mara bahaya. Azimat ini tidak ditulis oleh orang yang berilmu batin tinggi, melainkan ditulis oleh Ibu kandungnya sendiri.

Tentu, karena ketulusan hati sang Ibu, si anak yang selalu membawa azimat itu selalu terhindar dari segala mara bahaya.

Berkaitan dengan apa yang sedang saya bahas ini, ada kisah unik yang dialami seorang rekan saya pada tahun 2002. Ketika suatu hari dia pergi ke suatu kota kecil untuk keperluan membeli minyak wangi, rekan itu bertemu dengan seorang Kiai asal desa saya.

Karena rekan saya itu pernah menjadi santrinya. Dalam perjalanan pulang di atas mobil angkutan umum itu terjadi dialog tentang ilmu hikmah.

“Kok beli minyak zakfaron, buat apa?” tanya pak Kiai yang saat itu berduaan dengan istrinya.

Rekan saya pun menjelaskan bahwa minyak yang barusan dibeli itu akan dimanfaatkan untuk belajar membuat azimat. Kebetulan, dia baru pulang dari berguru di Cirebon.

Di atas kendaraan umum itu pak Kiai memberikan ijazah kepada rekan saya. “Kalau untuk keselamatan dari bahaya. tulis saja kalimat firman laa tudrikuhul abshooru wa huwa yudrikul abshoro wa huwal lathiiful khobiir”.

Selanjutnya, pak Kiai itu menerangkan tata cara riyadhah untuk menuliskan kalimat firman itu. Diantaranya ada tugas puasa dan tata laku yang berkaitan dengan upaya pembersihan batin. Ketika mobil sampai desa saya, justru pak Kiai minta turun tepat di depan kediaman saya atau dua ratus meter ke arah selatan dari kediaman pak Kiai.

“Kok turun di sini pak Kiai?” tanya rekan saya yang kediamannya masih berjarak dua puluh kilo meter ke arah barat.

“Saya ingin mampir-mampir dulu,” jawab pak Kiai.

Setelah menurunkan pak Kiai beserta istrinya, mobil pun berjalan lagi. Rekan saya yang baru menerima ijazah dadakan itu, hatinya merasa kurang enak.

“Masa saya menerima ijazah ilmu di atas mobil,” katanya dalam hati.

Karena keraguan itu, dia pun berniat mengulas ijazah di kediaman pak Kiai. Dia merasa kurang sreg kalau tidak silaturahmi langsung.

Maka, ketika mobil sudah sampai di terminal ( 3 KM dari desa pak Kiai) rekan saya pun memutuskan untuk turun dari atas mobil dan kembali ke jurusan desa saya. Dalam perjalanan tidak lebih lima menit itu. sampailah di kediaman pak Kiai. Anehnya. saat itu ia dapati pak Kiai sedang asyik menjemur padi dan tidak ada tanda-tanda barusan datang dari bepergian.

Setelah mengucapkan salam, pak Kiai berkata, “Kok lama tidak kelihatan. Dari mana saja?” Tentu saja rekan saya heran mendengar ucapan pak Kiai. Bukankah baru sekitar sepuluh menit keduanya berpisah di atas kendaraan umum.

Rekan saya itu pun menjelaskan maksud dan tujuannya datang. Yaitu, ingin mengulas ijazah yang diberikan di atas kendaraan umum, sekaligus menuruti kata hatinya untuk sesegera mungkin bersilaturahmi.

“Lho. dari pagi saya tidak pergi ke mana-mana,” jawab pak Kiai. “Tetapi bukankah tadi kita bertemu di atas mobil?”

“Tidak! Kamu boleh tanya sama Ibu dan para santri, mereka tahu dari pagi saya menjemur padi,” jawab pak Kiai tak kalah heran.

Merasa ada sesuatu yang ganjil, rekan saya itu diajak masuk ke kediaman pak Kiai. Akhirnya diputuskan bahwa pak Kiai mendukung rekan saya mengamalkan ijazah ilmu yang diterima dari “makhluk” yang menampakkan diri dalam bentuk jasad pak Kiai.

“Kalau kamu yakin, ya amalkan saja. Menurut saya, yang memberi ijazah itu boleh jadi khodam yang mengawal ayat yang ditunjukkan,” kata pak Kiai.

Selanjutnya, rekan saya mengikuti perintah yang disampaikan “guru gaib”, yaitu puasa sekian hari. Setelah itu, setiap kali ia kedatangan tamu yang mengaku terancam keselamatannya, maka ditulislah ayat Laa tudrikuhul abshooru wa huwa yudriikul abshoro wa huwal lathiiful khobiir, dengan tinta yang dicampur minyak wangi sebagaimana yang lazim dilakukan orang lain saat menulis rajah atau wifik.

Ketika saya tanyakan pengalaman rohani dari orang-orang yang dibuatkan azimat olehnya, dia menuturkan bahwa mereka si pemakai azimat selalu selamat dari bahaya. “Ada yang berjalan pada perempatan jalan yang disitu banyak orang yang mengancamnya, namun orang yang diancam itu juga tidak diapa-apakan, entah pengancam tidak melihat atau bagaimana,”

Katanya pada saya. Pengalaman yang lain? “Ada yang benar-benar sudah dihajar dengan pukulan dan tendangan, namun karena yang dihajar itu tidak merasakan sakit, yang menghajar lari ketakutan,” katanya lebih lanjut.

Menurutnya, menulis azimat adalah upaya mengharap keselamatan dari Allah SWT semata. Allah dengan sifat rahman dan rahim-Nya, tentu mengabulkan setiap doa baik yang diaktualisasikan dengan bahasa hati, lisan maupun tulisan.

Nah. jika azimat itu bermakna doa mengapa justru orang lain yang menulisnya? Untuk menjawab pertanyaan ini, Anda bisa tanya langsung kepada saya di nomor 0816340611, InsyaAllah saya akan menjelaskannya pada Anda.